<
30 September 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Aspirin dan Omega-3 Bisa Cegah Kanker Usus Besar

2 min read
Manfaat vitamin K

Manfaat vitamin K

Asam asetilsalisilat, paling dikenal sebagai aspirin, sudah dikenal sebagai obat yang bisa mengobati sakit kepala dan menjaga kesehatan jagung. Begitu pula dengan asam lemak omega-3 yang bisa melindungi konsumennya terhindar dari risiko penyakit jantung.

Namun satu penelitian terbaru menunjukkan bahwa orang yang mengonsumsi keduanya bisa terhindar dari risiko kanker usus besar.

Dalam uji klinis yang dijuluki  seAFOod Study, para ilmuwan gabungan dari universitas-universitas Leeds, Nottingham, Bradford, dan Newcastle di Inggris – bekerja sama dengan para peneliti dari institusi lain – membuat temuan menarik tersebut. Penemuan para peneliti tersebut muncul dalam jurnal bergengsi The Lancet.

Seperti dilansir situs medicalnewstoday.com (21/11/2018), mereka ingin melihat apakah obat yang tersedia secara luas, seperti aspirin dan asam eicosapentaenoic (EPA) – salah satu asam lemak utama yang terkandung oleh omega-3 – akan mengurangi jumlah polip usus pra-kanker pada orang yang berisiko tinggi terkena kanker usus besar.

Untuk itu, para peneliti merekrut 709 pasien yang dirawat di 53 rumah sakit di seluruh Inggris. Semua peserta itu berisiko tinggi terkena kanker usus besar.

Tim membagi peserta menjadi empat kelompok perlakuan. Ada kelompok penerima pengobatan aspirin saja, yang hanya EPA, kelompok penerima kombinasi aspirin dan EPA, dan kelompok penerima plasebo.

Mereka yang termasuk dalam kelompok aspirin hanya mengonsumsi 300 miligram tablet aspirin setiap hari selama setahun. Lalu, para peserta dalam kelompok EPA mengonsumsi 4 kapsul omega-3 berdosis 2 gram EPA. Dosis EPA ini lebih tinggi daripada jumlah yang tersedia dalam suplemen omega-3 biasa.

Walhasil, peserta yang mengonsumsi aspirin selama setahun memiliki 22 persen lebih sedikit polip secara keseluruhan – termasuk di sisi kanan usus besar, yang lebih sulit untuk dipantau melalui kolonoskopi – dibandingkan mereka yang menggunakan plasebo. Dokter mengidentifikasi polip pra-kanker biasanya dengan alat pemindai kolonoskopi.

Mereka yang mengonsumsi EPA memiliki polip 9 persen lebih sedikit secara keseluruhan bila dibandingkan dengan mereka dalam kelompok plasebo, meskipun hasil ini tidak signifikan secara statistik.

Namun, mereka dalam kelompok EPA memang memiliki polip 25 persen lebih sedikit di sisi kiri usus besar.

Hasil ini tentu menggembirakan sebab kanker usus besar lumayan besar penderitanya di dunia dan di Indonesia. The National Cancer Institute memperkirakan bahwa dokter akan mendiagnosa sekitar 140.250 kasus baru kanker kolon dan rektum pada tahun 2018 di Amerika Serikat.

Kanker usus besar berkembang dari polip atau pertumbuhan jaringan abnormal di dalam usus besar. Banyak polip ini jinak, tetapi beberapa dapat menyebabkan tumor kanker.

 

%d blogger menyukai ini: