<
Sen. Des 9th, 2019

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Hati-hati Menggunakan Pembalut Wanita, Jika Tak Ingin Seperti Wanita Ini

3 min read

Foto: dailymail.co.uk/PA real life

Share this

Penyakit sepsis jarang dikenal orang. Sebab penderitanya memang tergolong jarang. Selain itu gejalanya mirip dengan muntaber atau muntah berak. Beberapa orang yang mengetahuinya, banyak menduga kena diare atau ada infeksi jamur di mulutnya.

Padahal penyakit sepsis tergolong berbahaya. Ini karena bakteri dalam tubuh mengeluarkan racun yang sangat berbahaya, termasuk meracuni darah. Jika tak segera ditangani, pasien bisa meninggal dunia. Salah satunya yang dialami make-up artist bernama Kristina Makris.

‘Gadis 33 tahun, nyaris meninggal setelah mengalami sindrom syok toksik (TSS) saat beralih dari tampon biasa ke tampon organik. Tampon adalah nama lain pembalut wanita. Sedangkan tampon organik adalah jenis tampon yang tak perlu diganti dalam waktu lama. Saya dapat merasakan tubuh saya mati’.

Kejadian itu menimpanya pada 15 Januari lalu. Ia merasa seperti ditabrak truk. Kepala pusing dan muntah-muntah tanpa henti selama 10 menit. Lalu ia dibawa ke Rumah Skit Lahey, Massachusetts, Amerika Serikat. Dokter memvonisnya ia terkena sindroma syok toksik. Dokter lalu memberikannya antibiotik.

‘Dokter memompa saya dengan empat antibiotik dan cairan yang berbeda untuk meningkatkan tekanan darah saya, membuat saya mendapatkan 30 pound dalam cairan karena jumlah yang mereka pompakan ke saya,” ujarnya dalam situs dailymail.co.uk (30/11/2018). Makris dirawat 2 bulan di rumah sakit tersebut.

Peristiwa itu terjadi ketika ia menggunakan tampon organik. Namun kondisi tubuhnya mendadak berubah ketika ia menyantap sayur-sayuran. Diduga zat-zat dalam sayuran bereaksi terhadap tampon organik.

Iia merasa sangat mual dan melihat ada benjolan yang bengkak di selangkangannya. Semula ia menduga ini karena cedera dari berolahraga. “Saya pikir saya salah otot atau sesuatu tetapi tubuh saya jelas mencoba untuk memberitahu saya bahwa saya memiliki infeksi,” katanya.

Kondisinya terus memburuk. “Saya terbangun dengan menggigil, demam dan sakit kepala berdebar,” ujarnya.

Ibunya yang berada di rumah saat itu, segera memberikan antibiotik dan obat penurun tekanan darah, namun tak membantu. Ia lalu pergi membawa Makris ke rumah sakit. Ia memminta perawat untuk segera memberikan obat penawar sakit. “Aku sangat marah dan ketakutan, aku tidak tahu bagaimana harus bereaksi.”

Makris lalu dibawa ke ruang perawatan intensif (ICU). Ruam di kakinya menyebar cepat dan tanda-tanda vitalnya – denyut nadi, suhu, tekanan darah – semakin memburuk.

“Pada saat saya di ICU saya lupa waktu,” katanya. “Saya hanya ingat tim bedah berlari ke arah saya dan memberi tahu saya bahwa saya punya waktu 45 menit untuk membuat keputusan tentang apakah harus menjalani operasi atau tidak,” katanya.

“Mereka memberi saya skala waktu karena itu mendesak. Jika saya tidak memutuskan cepat, itu akan terlambat. Saya sangat bingung, saya tidak tahu harus berkata apa, atau mengapa saya bahkan perlu operasi, sampai saya diberitahu bahwa saya perlu prosedur segera atau saya akan kehilangan kaki kiri saya,” sambungnya.

Dokter bilang bahwa Makris perlu diresusitasi. Operasi berlangsung pukul 1 dini hari. Keesokan harinya ia terbangun dan tersasar. Ia melihat kakinya diperban karena terjadi infeksi. Tiga hari berselang, dokter memberitahu kalo ia terkena sepsis sejenis keracunan darah akibat bakteri. Kakinya sudah parah karena menderita TSS.

Makris juga bilang kepada dokter melalui tulisan tangan, karena mulutnya tertutup oleh tabung pernapasan: ‘Terima kasih karena telah menyelamatkan hidup saya,” katanya.

TSS terjadi ketika bakteri tertentu melepaskan racun ke dalam tubuh. Bakteri ini dapat menyebabkan sepsis, menurut Sepsis Alliance.

TSS merupakan infeksi bakteri yang sangat berbahaya – tetapi dapat dan kerap salah didiagnosis karena gejalanya mirip dengan penyakit lain dan karena sangat jarang kasusnya.

Kalaupun terjadi biasanya karena bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus yang tidak berbahaya, yang hidup di kulit, menyerang aliran darah dan melepaskan racun berbahaya.

Prevalensi TSS tidak jelas tetapi dokter mengklaim bahwa sekitar satu atau dua di setiap 100.000 wanita mengalaminya.

Sedangkan tingkat kematian 5-15% dari jumlah penderitanya. Ada kemungkinan si pasien bisa terkena lagi. dan terjadi lagi pada 30-40% kasus. Gejalanya biasanya dimulai dengan demam tinggi yang tiba-tiba – suhu di atas 38,9 ° C / 102 ° F.

Media Sosial Saya

© 2019 - Sitemap
error: Maaf Jangan Dicopy ya:)s protected !!
%d blogger menyukai ini: