<
Kam. Nov 21st, 2019

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Catat, Anak Hasil Pembuahan Buatan Berisiko Kena Hipertensi

3 min read
Share this

Mempunyai anak adalah dambaan semua orang tua. Tidak mengherankan jika banyak orang tua melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan momongan.

Selain mengangkat anak, tak sedikit dari mereka yang memilih memanfaatkan teknologi pembuahan buatan (bayi tabung). Dalam teknologi ini sel telur dibuahi dengan sel sperma tidak di dalam kandungan, melainkan di laboratorium.

Tentu tak semua orang tua bisa mendapatkan mudah dengan cara yang terbilang mahal tersebut. Kalaupun berhasil, para orang tua juga perlu tahu bahwa ada risiko memiliki anak dari hasil bayi tabung tadi.

Studi terbaru menunjukkan bahwa anak-anak yang dilahirkan melalui teknologi bayi tabung berisi tinggi terkena hipertensi pembuluh darah arteri di awal kehidupan. Jika tak diperhatikan, maka akan membawa dampak terhadap penyakit kardiovaskular lainnya, seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung dan stroke.

Adalah Dokter Emrush Rexhaj, Direktur Hipertensi Arteri dan Ketagihan Obat di Rumah Sakit Universitas Inselspital, Bern, Swiss. Dikutip dari situs sciencedaily.com (7/9/2018), mereka meneliti sistem sirkulasi darah pada 54 remaja muda yang sehat yang berusia rata-rata 16 tahun. Mereka adalah yang lahir melalui teknologi bayi tabung.

Peneliti mengukur tekanan darah pada saat menjalani rawat jalan, penumpukan plak, fungsi pembuluh darah dan kekakuan arteri. Indeks massa tubuh (IMT), berat lahir, usia kehamilan, dan IMT si sibu, status merokok dan profil risiko kardiovaskular si ibu.

Sebagai pembanding, periset juga melibatkan 43 peserta remaja yang lahir dengan persalinan normal. Mereka juga diperiksa seperti yang dilakukan pada remaja yang lahir melalui bayi tabung.

Melalui pemantauan tekanan darah rawat jalan 24 jam, para peneliti menemukan bahwa remaja hasil teknologi bayi tabung memiliki tekanan darah sistolik dan diastolik 119/71 mmHg. Ini lebih tinggi daripada peserta kontrol persalinan normal, yaitu 115/69 mmHg.

Kemudian ada 8 remaja yang mengembangkan hipertensi arteri yang memiliki tekanan darah lebih dari 130/80 mmHg. Sedangkan pada peserta kontrol hanya dijumpai satu orang yang memiliki tensi 130/80 mmHg. Hasil studi tersebut juga dimuat dalam Journal of American College of Cardiology.

“Peningkatan prevalensi hipertensi arteri pada peserta yang lahir dengan teknologi bayi tabung adalah yang paling memprihatinkan,” kata Emrush Rexhaj.

Menurutnya, ada semakin banyak bukti bahwa teknologi itu mengubah pembuluh darah pada anak-anak, tetapi konsekuensi jangka panjang tidak diketahui.

“Kami sekarang tahu bahwa ini menempatkan anak-anak ART pada tingkat hipertensi enam kali lebih tinggi daripada anak-anak yang dikandung secara alami,” imbuh Rexhaj.

Dokter Larry A.Weinrauch, MD, ahli penyakit jantung di Mount Auburn Hospital, Swiss mengatakan bahwa studi mini itu mengeluarkan remaja yang memiliki sejarah ibunya pernah lahir kembar, menderita eklamsia (tekanan darah tinggi sewaktu hamil), hipertensi kronis, dan diabetes.

“Hasil studi ini menunjukkan perlunya pencegahan awal melalui deteksi kelahiran bayi hasil teknologi bayi tabung,” kata Weinrauch.

“Kami harus waspada dalam pengembangan tekanan darah tinggi di antara anak-anak tersebut dengan menerapkan modifikasi gaya hidup dan, jika perlu, terapi obat-obatan.”

Media Sosial Saya

© 2019 - Sitemap
%d blogger menyukai ini: