<
Kam. Nov 21st, 2019

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Ini Model Baru Agar Laktasi Bisa Efektif Di Tempat Kerja

3 min read

Foto: medicaldaily.com

Share this

Keberhasilan pemberian ASI (air susu ibu) eksklusif di Indonesia masih sangat rendah. Untuk itu, dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK menawarkan model baru promosi laktasi agar laktasi berhasil dan produktivitas kerja pun tidak terganggu.

Model baru itu terbukti efektif lewat riset yang dilakukan Ray untuk mendapatkan gelar doktor di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang berhasil dipertahankan di FKUI, Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat,
pada Selasa (15/1/2019).

Menurutnya, angka keberhasilan pemberian ASI eksklusif cuma sebesar 32% (Riskesdas 2013), bahkan pada populasi pekerja perempuan, cakupan ASI eksklusif jauh lebih rendah yaitu sekitar 19% (Dept IKK FKUI, 2015). Kebijakan cuti melahirkan yang hanya 3 bulan serta dukungan laktasi yang kurang memadai di tempat kerja diyakini menjadi faktor penyebabnya.

Jangan Lupa Baca Juga: ASI Juga Mengandung Antioksidan Pencegah Perlemakan Hati.

Padahal ASI eksklusif merupakan indikator kesehatan yang sangat penting, tidak hanya bagi bayi dan ibu, tetapi juga untuk status kesehatan bangsa.

“Meskipun sudah ada peraturan pemerintah untuk menyukseskan pemberian ASI eksklusif di tempat kerja, namun penerapannya belum efektif di perusahaan dan pabrik karena berbagai alasan,” katanya dalam siaran pers dari FKUI (14/1/2019). 

Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa perusahaan tidak maksimal mendukung program laktasi pekerja karena selain khawatir mengganggu produktivitas pekerja.

Selain itu juga hingga kini belum ada keseragaman data manfaat dukungan laktasi dan panduan praktis tentang model pendekatan dan penerapannya di lingkungan kerja.

Maka, Ray berinisiatif membuat model promosi laktasi yang efektif. Ia menggunakan model ini dibuat dengan Metode Delphi melalui kesepakatan ahli dan mengidentifikasi tujuh komponen utama dukungan laktasi di tempat kerja.

Ketujuh komponen itu, di antaranya, adalah kebijakan waktu kerja fleksibel untuk pekerja yang menyusui, fasilitas ruang laktasi yang khusus dan tidak multifungsi, metode edukasi dengan pemanfaatan teknologi media sosial serta optimalisasi peran konselor laktasi okupasi dan dokter perusahaan.

Pendekatan seperti ini belum tercakup dalam peraturan pemerintah dan belum pernah dilakukan di Indonesia.

Walhasil, Setelah diujicobakan melalui metode cluster randomized controlled trial di tingkat perusahaan perkantoran dan pabrik, model Basrowi dkk ini, terbukti efektif mencapai cakupan ASI eksklusif sebesar 54% (jauh lebih tinggi dari angka ASI eksklusif nasional)

Kecuali itu juga mampu meningkatkan hingga 27 kali lebih besar perilaku laktasi yang baik di kalangan pekerja perempuan, 87% pekerja memiliki tingkat kehadiran yang baik serta 94% pekerja perempuan yang menyusui mampu mencapai target kerja sambil menyusui.

“Sementara itu, pada kelompok pekerja yang tidak mendapatkan intervensi model ini, angka ASI eksklusif nya sangat rendah yaitu hanya 6%, tingkat kehadiran 6% lebih rendah dan tingkat pencapaian target kerja 12% lebih rendah,” tutur Ray.

Jangan Lupa Baca Juga: Spiral Aman Buat Ibu Menyusui.

Ray bilang bahwa Model Promosi Laktasi terbukti efektif meningkatkan perilaku laktasi dan keberhasilan cakupan pemberian ASI eksklusif pekerja perempuan yang kembali dari cuti melahirkan hingga 54%, jauh lebih tinggi dibanding angka cakupan ASI eksklusif nasional.

“Bahkan penerapan Model Promosi Laktasi di Tempat Kerja ini terbukti membantu mempertahankan status produktivitas pekerja perempuan sambil sukses memberikan ASI eksklusif,” sambungnya.

Dengan demikian, studi Ray memberikan bukti baru yang sangat penting dan akurat kepada pemerintah dan dunia kerja bahwa apabila dukungan laktasi di tempat kerja diterapkan secara terstruktur seperti Model Promosi Laktasi Basrowi dkk., maka manfaatnya tidak hanya meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif pekerja tetapi juga merupakan investasi yang menguntungkan bagi perusahaan karena model ini dapat mempertahankan produktivitas pekerja. 

Media Sosial Saya

© 2019 - Sitemap
%d blogger menyukai ini: