<
28 September 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Jumlah Kasus Gagal Ginjal Meningkat dan Menggerogoti BPJS Kesehatan

3 min read

Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) yang jatuh pada setiap tanggal 14 Maret kembali diperingati di seluruh dunia. Pada tahun ini mengusung tema “Kidney Health for Everyone Everywhere” atau “Ginjal sehat untuk setiap orang dimana saja”.

Seruan untuk meningkatkan kesehatan ginjal bagi siapa saja dan dimana saja ini juga dilakukan di Indonesia. Pada tahun ini Hari Ginjal Sedunia menitikberatkan pada pencegahan penyakit serta meningkatkan akses untuk layanan kesehatan ginjal.

Pencegahan penyakit ginjal memiliki arti penting untuk menekan insiden penyakit ini yang meningkat tiap tahunnya. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 menunjukkan persentase penyakit ginjal kronis (PGK) masih tinggi yaitu sebesar 3,8%, dengan kenaikan sebesar 1,8% dibandingkan hasil Riskesdas tahun 2013.

Dr. Aida Lydia, PhD., Sp.PD-KGH, Ketua Umum PB Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB PERNEFRI) mengatakan, Saat ini diperkirakan sekitar 10% penduduk dunia menderita PGK. Prevalensi PGK cenderung lebih tinggi di negara berkembang. “Di Asia Tenggara, prevalensi PGK sangat beragam, antara lain di Malaysia sekitar 9,1%, di Thailand 16,3%,” ujarnya dalam keterangan persnya (14/3/2019).

Beban negara akibat PGK pun amat besar. Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di tahun 2017 menunjukkan 3.657.691 prosedur dialisis (cuci darah) dijalani pasien yang menghabiskan total biaya sebesar Rp3,1 triliun.

Sementara itu, Data Indonesian Renal Registry (IRR) tahun 2017, menunjukkan jumlah pasien aktif yang menjalani hemodialisis sebanyak 77,892 orang, sementara pasien baru adalah 30,843 orang, 59% diantaranya mengenai usia produktif 45-64 tahun. Dampak ekonomi yang ditimbulkan demikian besar.

Akses layanan yang belum merata di seluruh Indonesia juga menjadi salah satu permasalahan utama dalam penanggulangan PGK. Hal ini tentu saja memerlukan perhatian dari berbagai pihak, baik pemerintah, sektor swasta,dan peran serta seluruh masyarakat.

Hal ini seiring dengan fakta yang terjadi di dunia saat ini, yaitu meskipun kebijakan dan strategi nasional untuk Penyakit Tidak Menular (PTM) atau Non-Communicable Diseases (NCD) secara umum ada di banyak negara, kebijakan spesifik yang diarahkan pada skrining, pencegahan dan pengobatan penyakit ginjal masih dirasakan kurang memadai.

PGK dapat berkembang menjadi suatu gagal ginjal tahap akhir jika tidak tertangani dengan baik, dan menyebabkan berbagai komplikasi bahkan kematian. Jika seseorang memasuki stadium akhir dari penyakit ginjalnya, maka ia akan membutuhkan suatu terapi pengganti ginjal diantaranya hemodialisis, peritoneal dialisis atau transplantasi ginjal.

Tentang faktor risiko dan pencegahan dari penyakit ini, Aida mengatakan, ada beberapa faktor risiko PGK seperti diabetes, penyakit darah tinggi (hipertensi), kegemukan (obesitas), glomerulonefritis, penyakit autoimun, merokok, dan lain-lain.

Berdasarkan IRR 2017, penyebab terbanyak gagal ginjal di Indonesia adalah hipertensi (36%) dan diabetes (29%). Maka perlunya pencegahan PGK. Pencegahan dapat dilakukan melalui pencegahan primer dan sekunder.

Pencegahan primer yaitu program skrining yang bertujuan untuk mendeteksi masyarakat yang berisiko terkena Didukung oleh: penyakit ginjal. “Sedangkan pencegahan sekunder dimaksudkan untuk mencegah para penderita PGK mengalami penurunan fungsi ginjal yang lebih berat lagi, sehingga dapat mengurangi jumlah pasien yang harus menjalani terapi pengganti ginjal,” sambung Aida.

%d blogger menyukai ini: