<
27 September 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Gula Pada Minuman Ringan Bisa Pacu Pertumbuhan Kanker Kolorektal

3 min read
Gula pada minuman ringan bisa pacu kanker kolorektal

Gula pada minuman ringan bisa pacu kanker kolorektal (Foto: myfox.com)

Minuman bergula seperti yang ada di minuman ringan tak cuma bisa menyebabkan diabetes dan obesitas. Para peneliti yakin bahwa gula juga dapat merangsang timbulnya kanker dan memicu penyebaran kanker. Namun untuk yang satu ini, periset belum mengetahuinya selama ini.

“Kita tahu bahwa obesitas meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal, namun, kami tidak yakin apakah ada hubungan langsung dan kausal antara konsumsi gula dan kanker,” kata Profesor Jihye Yun, ahli genetika molekuler dan manusia di Baylor College of Medicine, sebagaimana dikutip situs medicalnewstoday.com (25/3/2019).

Sekarang pertanyaan itu terjawab. Yun bersama tim peneliti lain dari Baylor College of Medicine di Houston, Texas dan Weill Cornell Medicine di New York City, New York – keduanya berlokasi di Amerika Serikat – mengidentifikasi hubungan yang jelas antara minuman manis dan percepatan pertumbuhan tumor pada kanker kolorektal.

Baca Juga: Tanaman Bawang Bisa Cegah Kanker Kolorektal.

Dalam studi baru, hasil yang muncul kemarin di jurnal Science, tim peneliti mempelajari efek sirup jagung fruktosa tinggi pada model tikus kanker kolorektal.

Tim memilih larutan 25 persen sirup jagung fruktosa berkadar tinggi . Itu adalah jenis jenis pemanis yang paling sering digunakan produsen sebagai bahan dalam minuman ringan yang populer.

Baca Juga: Wow Viagra Bisa Cegah Kanker Kolorektal.

Dengan menggunakan model tikus, para ilmuwan bertujuan tidak hanya untuk mengonfirmasi hubungan antara gula pada makanan dan perkembangan tumor tetapi juga untuk mempelajari lebih lanjut tentang mekanisme yang terjadi.

Tikus direkayasa menderita kanker kolorektal tahap awal dengan cara menghapus gen “APC.” Gen ini menyandikan protein dengan nama yang sama. Dengan menghapus gen APC, sel terjadi mutasi dan terjadi kanker usus besar yang juga menjadi penyebab kanker usus besar yang tumbuh cepat pada manusia.

“APC adalah penjaga gerbang dalam kanker kolorektal,” kata Yun. “Menghapus protein ini seperti menghilangkan kerusakan mobil. Tanpa itu, sel-sel usus normal tidak berhenti tumbuh atau mati, membentuk tumor tahap awal yang disebut polip,” jelasnya.

“Lebih dari 90 persen pasien kanker kolorektal memiliki jenis mutasi APC,” imbuh Yun.

Pada tahap pertama penelitian, periset membiarkan tikus minum minuman manis. Alhasil, hewan pengerat bertambah berat hanya dalam waktu 1 bulan. Kemudian mereka dibagi dua kelompok.

Untuk menentukan apakah sirup jagung akan meningkatkan pertumbuhan kanker secara independen dari obesitas, tim kemudian memutuskan untuk memberikan minuman manis. Jadi, para peneliti memberi tikus minuman manis secara oral sekali sehari selama 2 bulan. Sebagian kelompok lain cuma minum air.

Setelah intervensi 2 bulan ini, para peneliti mengamati bahwa tikus tidak menambah berat badan, tetapi mereka memang mengembangkan tumor yang lebih besar dan lebih cepat maju daripada tikus yang hanya menerima air.

“Hasil ini menunjukkan bahwa ketika hewan memiliki tumor tahap awal di usus – yang dapat terjadi pada banyak manusia dewasa muda secara kebetulan dan tanpa gejala apa pun. Jadi, mengonsumsi sirup jagung fruktosa tinggi dalam bentuk cair dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan tumor terlepas dari obesitas,” sambung Yun.

“Semakin banyak studi pengamatan telah meningkatkan kesadaran tentang hubungan antara mengonsumsi minuman manis, obesitas, dan risiko kanker kolorektal,” ujar Yun.

Meski begitu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menerjemahkan penemuan ini kepada orang-orang. Bagaimanapun, temuan Yun cspada model hewan menunjukkan bahwa konsumsi kronis minuman manis dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan kanker untuk berkembang.

“Pada manusia, biasanya dibutuhkan 20 hingga 30 tahun untuk kanker kolorektal tumbuh dari tumor jinak stadium awal menjadi kanker agresif,” kata Yun.

Berita Terkait

%d blogger menyukai ini: