<
4 Desember 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Jangan Biarkan Anak Terkena Diabetes

3 min read
Angka diabetes dan obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun, baik di dunia dan Indonesia. Peningkatannya bisa dihambat dimulai dari anak-anak.
Ancaman diabetes pada anak

Ancaman diabetes pada anak (Foto: downtoearth.org.in)

Data International Diabetes Federation menunjukkan lebih dari 10 juta penduduk Indonesia menderita penyakit tersebut di tahun 2017. Tercatat sebagai negara peringkat keenam dengan beban penyakit diabetes mellitus terbanyak di dunia.

Angka ini, menurut situs fkui.ac.id, kian meningkat seiring berjalannya waktu. Ini terbukti dari laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang menunjukkan prevalensi diabetes mellitus pada penduduk dewasa Indonesia sebesar 6,9% di tahun 2013, dan melonjak pesat ke angka 8,5% di tahun 2018.

Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), bahkan memprediksi penyakit diabetes mellitus akan menimpa lebih dari 21 juta penduduk Indonesia di tahun 2030.

Ancaman diabetes mellitus tentunya menjadi salah satu masalah kesehatan utama yang menyedot perhatian besar di Indonesia.

Lantas, apa yang menyebabkan tingginya angka obesitas dan diabetes ini? Menurut pakar endokrinologi anak FKUI-RSCM, Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), permasalahan obesitas dan penyakit kronik seperti diabetes mellitus umumnya sudah mulai berakar sejak usia anak.

Kelebihan berat badan pada usia anak jika dibiarkan terus menerus akan menimbulkan konsekuensi resistensi insulin, yang kemudian menyebabkan intoleransi glukosa dan pada akhirnya menjadi diabetes mellitus tipe 2 di usia dewasa.

Disadur dari The House of Commons Health Committee pada tahun 2004, generasi saat ini akan menjadi generasi pertama di mana anak cenderung meninggal mendahului orang tuanya, dan hal tersebut merupakan konsekuensi dari tingginya obesitas di usia anak. Semakin muda usia anak mengalami obesitas, semakin dini pula usia anak yang berisiko mengidap diabetes.

Bahkan, saat ini diabetes mellitus tipe 2 sudah dapat ditemukan pada anak usia 7-8 tahun di Indonesia. Melihat besarnya dampak yang ditimbulkan oleh obesitas, kesadaran dan persepsi masyarakat akan pentingnya pengendalian asupan gizi seimbang sebagai kunci untuk melawan penyakit menjadi hal yang perlu ditingkatkan.

“Obesitas adalah penyakit yang nyata, diagnosisnya tercantum di dalam International Statistical Classification of Diseases (ICD), dan bukan hanya sekedar masalah estetika biasa. Masyarakat harus sadar tentang hal itu,” ujar Aman pada presentasinya.

Obesitas bersifat multifaktorial, yang berarti terdapat banyak faktor baik secara internal seperti genetik, maupun eksternal dari diri seseorang yang menyebabkan kondisi tersebut.

“Kita mewarisi nafsu makan para pendahulu kita, gen kita pada dasarnya adalah gen lapar.” imbuhnya. Bedanya, kita dulu tinggal di gua. Selama ribuan tahun manusia mengalami kelangkaan pangan, harus berjuang dulu untuk mendapat makanan, sehingga cadangan lemak terpakai untuk bertahan hidup.

Namun dalam satu abad terakhir, kita justru kelebihan pangan. Kita diberikan akses yang terlalu mudah untuk mendapat makanan.

“Hal ini menyebabkan adanya seleksi gen, sel cadangan lemak yang ada di tubuh kita akan terus disimpan dan menumpuk, sehingga menjadi overweight dan obesitas,” jelas dr. Aman lebih lanjut.

American Academy of Pediatrics-Ikatan Dokter Anak Indonesia (AAP-IDAI) sendiri memiliki rekomendasi bertajuk ‘5210’ untuk melawan obesitas.

Yaitu:

  • makan buah dan sayur minimal 5 kali pada kebanyakan hari,
  • batasi waktu layar atau semacam lihat televisi, hp, dan komputer (screen time) yang tidak terkait dengan sekolah kurang dari 2 jam per hari,
  • lakukan 1 jam kegiatan fisik setiap hari dan 20 menit aktifitas fisik berat minimal 3 kali per minggu,
  • dan usahakan konsumsi 0 gula tambahan– biasakan minum air putih, gunakan lebih sedikit gula.

Pemberian ASI secara penuh juga dapat menurunkan risiko terjadinya obesitas dini, karena ASI memiliki hormon-hormon tertentu yang tidak terkandung pada susu formula.

error: Maaf Jangan Dicopy ya:)s protected !!
%d blogger menyukai ini: