<
4 Desember 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Suplementasi Tokoferol Penting Untuk Penyandang Talasemia

2 min read
α-tokoferol dapat memperbaiki hemolisis di membran SDM pasien thalassemia-β mayor, hal ini dibuktikan dengan perbaikan kadar Hp setelah pemberian α-tokoferol, meskipun kadar Hp tidak bisa mencapai nilai normal.
Talasemia

Penderita talasemia mayor diberi suplementasi tokoferol

Thalassemia merupakan penyakit genetik berupa gangguan pembentukan hemoglobin (Hb). Data Unit Kelompok Kerja Hematologi-Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), hingga April 2019 menunjukkan jumlah pasien thalassemia di seluruh Indonesia sebanyak 10.531 orang.

Pada thalassemia-β mayor terjadi gangguan pembentukan rantai globin-β, sehingga rantai globin-α menjadi berlebihan. Penumpukan rantai globin-α yang berlebihan tersebut di membran sel darah merah (SDM) menyebabkan rusaknya komponen penyusun membran antara lain protein-protein dan fosfolipid.

Selanjutnya terjadi kerusakan SDM yang disebut dengan hemolisis dan sistem pembentukan SDM atau eritropoeisis menjadi tidak efektif. Keseluruhan mekanisme tersebut menyebabkan anemia kronik pada pasien thalassemia-β mayor.


Tata laksana yang harus dilakukan adalah pemberian transfusi darah secara terus menerus. Namun hemolisis dan transfusi darah berulang mengakibatkan kadar besi bebas dalam tubuh meningkat.

Besi bebas merupakan salah satu katalis pada reaksi pembentukan radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif pada tubuh.

Untuk melindungi sel dari kerusakan radikal bebas, terdapat antioksidan endogen salah satunya adalah glutation yang dapat dihasilkan oleh tubuh.

Glutation terdiri atas glutation tereduksi (GSH) dan glutation teroksidasi (GSSG). Antioksidan lain yang berperan penting dan mampu melindungi membran fosfolipid SDM akibat stres oksidatif adalah vitamin E (α-tokoferol). Akan tetapi α-tokoferol tersebut tidak dapat dihasilkan oleh tubuh, sehingga disebut dengan antioksidan eksogen.

Beberapa studi yang pernah dilakukan sebelumnya membuktikan bahwa terjadi defisiensi α-tokoferol pada pasien thalassemia mayor, sehingga dianjurkan pemberian suplementasi α-tokoferol secara rutin sebagai antioksidan.

Belum ada keseragaman mengenai pemberian suplementasi rutin α-tokoferol tersebut. Unit Koordinasi Kerja Hemato-Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan α-tokoferol sebagai salah satu tata laksana thalassemia mayor di Indonesia.

Namun pusat thalassemia Children Hospital di Oakland dan Thalassemia International Federation (TIF) tidak menganjurkan pemberian suplementasi α-tokoferol secara rutin pada pasien thalassemia.

Maka, dr. Nora Sovira, M.Ked(Ped), SpA(K), menguji manfaatnya dalam promosi doktor yang digelar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, seperti dalam keterangan persnya (19/9/2019).

Nora meneliti efektivitas α-tokoferol di membran SDM pasien thalassemia-β mayor, dengan menilai penanda hemolisis haptoglobin (Hp), hemopeksin (Hx), dan fragilitas SDM dan penanda stres oksidatif MDA dan antioksidan glutation (GSH, GSSG dan rasio GSH/GSSG).

Dosis α-tokoferol sesuai rekomendasi Food and Nutrition Board (FNB), Institute of Medicine (IOM), usia 4–8 tahun: 200 mg/hari; 9–13 tahun: 400 mg/hari dan 14–18 tahun: 600 mg/hari.

Hasil risetnya membuktikan bahwa α-tokoferol dapat memperbaiki hemolisis di membran SDM pasien thalassemia-β mayor, hal ini dibuktikan dengan perbaikan kadar Hp setelah pemberian α-tokoferol, meskipun kadar Hp tidak bisa mencapai nilai normal.

“Penelitian ini juga membuktikan bahwa stres oksidatif masih tetap terjadi pada pasien thalassemia-β mayor meskipun sudah mendapat transfusi dan kelasi besi rutin,” kata Nora.

error: Maaf Jangan Dicopy ya:)s protected !!
%d blogger menyukai ini: