<
4 Desember 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Ini Salah Satu Penyakit Tumor Mata Yang Perlu Perhatian

2 min read
Pseudotumor obita merupakan penyakit tumor mata terbanyak ketiga, setelah penyakit tiroid (oftalmopati Graves) dan limfoproliferatif. Tingkat kekambuhannya tinggi.

Pseudotumor orbita merupakan peradangan nonspesifik yang terjadi di rongga mata dan tidak diketahui penyebabnya.

Pseudotumor orbita adalah tumor yang sifatnya jinak, namun penatalaksanaannya masih merupakan tantangan. Pseudotumor obita merupakan penyakit tumor mata terbanyak ketiga, setelah penyakit tiroid (oftalmopati Graves) dan limfoproliferatif.

Dalam keterangan persnya ( 2/7/2019) insidens penyakit ini berkisar antara 4-11% dari seluruh kasus tumor orbita. Di poliklinik mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) tercatat 60 kasus baru pseudotumor orbita periode tahun 2007–2014.

Meskipun belum diketahui secara pasti, peradangan kronik diduga menjadi dasar terjadinya penyakit ini.

Menurut keterangan persnya (1/7/2019), terapi utama pseudotumor orbita adalah terapi obat kortikosteroid.

Pengobatan ini memerlukan jangka waktu minum obat yang panjang, sehingga risiko putus obat tinggi akibat resistensi, ketergantungan dan efek samping obat.

Hal ini menyebabkan angka kesembuhan yang rendah serta angka kegagalan terapi dan kekambuhan yang tinggi.

Ini yang mendorong Dokter Neni Anggraini SpM, untuk meneliti lebih lanjut mengenai faktor prediksi kekambuhan pseudotumor orbita dari berbagai segi.

Misalnya dari segi klinis, histopatologi dan penanda tumor jumlah sel mast, ekspresi immunoglobulin G4 (IgG4), Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α), dan Transforming Growth Factor-β (TGF-β).

Penelitian yang megantarkan Neni meraih gelar Doktor di Fakulats Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dilakukan dengan mengumpulkan data pasien yang terdiagnosis sebagai pseudotumor orbita secara histopatologi sejak tahun 2006–2017 di Departemen Mata FKUI-RSCM.

Studi tersebut dilakukan dengan menilai karakteristik klinis, histopatologi dan ekspresi penanda tumor pada jaringan dari blok parafin yang tersedia.

Penanda tumor yang yang diperiksa pada penelitian ini adalah jumlah sel mast, ekspresi IgG4, TNF-α, dan TGF-β.

Berdasarkan hasil riset Neni, faktor klinis massa di kelopak dan/atau konjungtiva, proptosis (pendorongan bola mata ke depan), penurunan tajam penglihatan terkait penyakit, hambatan gerak bola mata, lokasi tumor, dan tatalaksana memengaruhi kekambuhan secara individual.

“Faktor klinis lokasi dan tatalaksana dapat dijadikan sebagai faktor prediksi kekambuhan, sedangkan jenis histopatologi, jumlah sel mast, ekspresi IgG4, TNF-α, TGF-β tidak dapat dijadikan faktor prediksi kekambuhan,” ujar Neni dalam ringkasannya.

Didapatkan satu model skoring probabilitas kekambuhan pseudotumor orbita berdasarkan lokasi tumor dan tatalaksana, yaitu lokasi non-anterior, tatalaksana kortikosteroid tunggal, serta lokasi non-anterior dan tatalaksana kortikosteroid tunggal. (asw)

error: Maaf Jangan Dicopy ya:)s protected !!
%d blogger menyukai ini: