Apa Yang Dikerjakan Otak Ketika Orang Lagi Bosan?

Bosan mengikuti kuliah

Setiap orang diperkirakan akan pernah bosan. Entah bosan pada seseorang atau pada sesuatu yang sedang dikerjakan. Tetapi kita tak tahu bagaimana otak merespons hal-hal membosankan.

“Semua orang mengalami kebosanan,” kata Profesor Sammy Perone, psikolog pada Washington State University di Pullman, Amerika Serikat.  “Beberapa orang sering mengalaminya, yang tidak sehat.”

Untuk alasan ini, sepertid ikutip situs medicalnewstoday.com (10/7/2019), Perone dan rekan-rekannya dari Washington State University melakukan penelitian yang berfokus pada seperti apa rasa bosan di otak.

Temuan penelitian – yang dipublikasikan di jurnal Psychophysiology – mungkin membantu para peneliti mengidentifikasi cara terbaik mengatasi kebosanan sehingga kondisi ini tidak berakhir mempengaruhi kesehatan mental .

Dalam studi tersebut, para peneliti merekrut 54 peserta dewasa muda. Para peneliti meminta para relawan untuk mengisi survei yang berisi pertanyaan tentang pola kebosanan dan bagaimana mereka bereaksi terhadap perasaan bosan.

Kemudian, mereka dites EEG awal mengukur aktivitas otak normal, para peneliti menugaskan para peserta yang bosan mengerjakan tugas. mereka harus mengubah delapan pasak virtual pada layar saat komputer menyorotnya. 

Pemindaian ini berlangsung sekitar 10 menit. Selama waktu itu para peneliti menggunakan EEG untuk mengukur aktivitas otak peserta saat mereka melakukan tugas yang membosankan.

Dalam menilai “peta” gelombang otak yang diperoleh melalui EEG, para peneliti melihat secara khusus pada tingkat aktivitas di area frontal kanan dan frontal kiri otak.

Itu karena kedua daerah ini menjadi aktif karena berbagai alasan. Bagian frontal kiri, para peneliti menjelaskan, menjadi lebih aktif ketika seseorang mencari stimulasi atau gangguan dari suatu situasi dengan memikirkan sesuatu yang berbeda.

Sebaliknya, bagian frontal kanan otak menjadi lebih aktif ketika seorang individu mengalami emosi negatif atau keadaan kecemasan.

Para peneliti menemukan bahwa peserta yang melaporkan lebih rentan terhadap kebosanan setiap hari menunjukkan lebih banyak aktivitas di area otak kanan depan selama tugas yang berulang, karena mereka menjadi semakin bosan. (hkw)