<
Sen. Sep 23rd, 2019

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Sel Punca Dari Lemak Limbah Pasien Liposuction Atasi Diabetes Tipe 2

4 min read
Karina mendapatkan gelar doktor di FKUI setelah membuktikan sel punca dari lemak limbah pasien liposuction bisa digunakan untuk terapi diabetes tipe 2.
Diabetes dan serangan jantung mengenai anak muda

Diabetes dan serangan jantung mengenai anak muda (Foto: insidephilantropy.com)

Share this

Diabetes melitus (DM) adalah masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius. WHO menempatkan DM sebagai penyakit nomor empat penyebab kematian terbanyak di dunia setelah penyakit kardiovaskular, kanker, dan penyakit pernafasan kronis.

Menurut Dokter Karina, ahli bedah plastik dan rekonstruksi, berbagai penelitian epidemiologi memperkirakan jumlah penyandang DM akan terus meningkat di seluruh penjuru dunia.

Di Indonesia sendiri, Data Riset Kesehatan Dasar Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2013 menunjukkan terjadinya peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia dari 1,1% di tahun 2007 menjadi 2,1% di tahun 2013.

Sekitar 95% dari total kasus DM global adalah DM tipe 2. Terapi terstandar untuk DM tipe 2 meliputi perubahan pola hidup penderita yang dapat berlanjut ke terapi medikamentosa (obat). Keseluruhan terapi ini difokuskan untuk mencapai target glikemik, di mana pemeriksaan laboratorium berupa angka HbA1C dipakai sebagai acuan.

Namun sayangnya, walaupun target glikemik dapat tercapai, para penderita DM tipe 2 tetap memiliki risiko komplikasi penyakit vaskular (pembuluh darah), yang dapat menimbulkan berbagai gejala seperti penyakit jantung, gagal ginjal, luka diabetes, disfungsi ereksi, dan sebagainya.

Pemanfaatan stem cell pada terapi DM sudah banyak dilakukan di seluruh dunia, dan sudah mulai banyak dilakukan di Indonesia.

Berbagai jurnal tentang peran stem cell pada DM, serta berbagai uji klinis pada berbagai fase, sudah banyak dipublikasikan. Sayangnya, banyak riset menyatakan bahwa potensi stem cell pada DM menurun, sehingga diduga akan terjadi penurunan efektivitas terapi bila menggunakan stem cell autologus (dari tubuh pasien sendiri) pada DM.

“Meskipun demikian, penggunaan stem cell autologus untuk aplikasi klinis masih dianggap layak karena stem cell dapat diperoleh dalam jumlah banyak dengan mudah dari jaringan lemak tubuh pasien, serta meniadakan reaksi penolakan dari tubuh pasien,” katanya dalam siaran persnya yang berkaitand engan promosi doktornya di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Namun demikian, upaya perbaikan perlu dilakukan agar efek terapi stem cell autologus menjadi maksimal, terutama saat digunakan untuk pembentukan pembuluh darah baru guna perbaikan penyakit vaskular akibat DM.

Sebagai seorang klinisi bedah plastik yang bertanggung jawab atas pengambilan lemak dari tubuh pasien sebagai bahan sumber terapi stromal vascular fraction (stem cell tanpa kultur) autologus, Karina mulai mencermati adanya perbedaan dari sel stromal pasien DM dibanding dengan pasien non DM.

Walaupun dilakukan dengan tehnik liposuction yang sama, jumlah sel stromal pasien DM jauh lebih sedikit dibandingkan dengan dari pasien non DM.

Hal inilah yang membuatnya terbiasa mengambil lemak pasien DM lebih banyak, walaupun pada sebagian kasus, hal ini sulit untuk dilakukan.

Itulah yang pada akhirnya menimbulkan keingintahuan peneliti untuk mendalami lebih jauh, apakah selain dari jumlahnya yang menurun, kualitas dari stem cell DM pun juga menurun. Terutama untuk melihat dari fungsi angiogenesis yang tentunya sangat dibutuhkan untuk keberhasilan terapi bagi pasien DM.

Penelitian yang mengantarkan Karina mendapatkan gelar Doktor dimulai dengan membandingkan platelet rich plasma (PRP) dari donor sehat, donor DM, dan darah PMI yang sudah dianggap kadaluarsa, mengingat penelitian ini akan membutuhkan PRP dalam jumlah banyak sehingga lebih memungkinkan bila PRP diproses dari darah PMI.

Di dunia medis, PRP sudah banyak digunakan untuk terapi kecantikan, anti aging dan penyembuhan luka, namun mengingat bahwa PRP yang diproses dengan baik adalah sumber berbagai faktor pertumbuhan (growth factors), maka dipikirkan untuk mencoba melakukan penambahan PRP dengan berbagai konsentrasi ke dalam medium kultur stem cell.

Efek yang diharapkan terjadi adalah peningkatan jumlah dan kualitas stem cell, baik dari daya ketahanan hidup (survival), daya memperbanyak diri (proliferasi), ekspresi penanda stem cell, serta kemampuan stem cell untuk membentuk melakukan angiogenesis yang dilihat di Matrigel.

Mengingat begitu banyak growth factors yang terdapat di dalam PRP, peneliti lalu memfokuskan diri ke Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), yang merupakan salah satu growth factor utama dalam angiogenesis.

“Menarik untuk dicermati, ternyata darah vena pasien DM dan darah PMI, mengandung kadar VEGF dalam trombosit yang lebih tinggi dari pasien non DM,” tutur Karina.

Peneliti juga melakukan analisa perbandingan antara kualitas dan kuantitas stem cell yang berasal dari lemak limbah medis pasien liposuction, yang berasal dari pasien DM dan dengan non DM. Pada beberapa aspek, terlihat dengan jelas menurunnya kualitas dan kuantitas dari stem cell pasien DM tersebut.

Yang menarik, perbedaan signifikan terlihat jelas pada ekspresi penanda permukaan stem cell yang bernama CD105, di mana CD105 ini terkait erat dengan daya angiogenesis. Pemrosesan stem cell pada penelitian ini telah mendapatkan sertifikat paten atas nama peneliti di Direktorat Hak Cipta Indonesia.

Pada akhir penelitian ini diketahui bahwa pemberian PRP 15% ke dalam medium kultur stem cell DM, dapat meningkatkan kemampuan angiogenesis stem cell DM yang dilihat secara in vitro (di luar tubuh manusia), sehingga menjadi sebanding dengan stem cell non DM, namun dengan waktu pembentukan pembuluh darah yang lebih panjang.

Media Sosial Saya

© 2019 - Sitemap
%d blogger menyukai ini: