<
Sen. Des 16th, 2019

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Ini Risiko Kadar Gula Tinggi Saat Serangan Jantung

3 min read
Pada saat serangan jantung seringkali disertai dengan kadar gula darah yang meningkat dalam waktu singkat.
Share this

Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu dari 5 penyakit terbanyak di Indonesia, dan masih merupakan penyakit dengan angka kematian yang tinggi (8-11%).

Infark miokard atau istilah awam yang lebih dikenal dengan serangan jantung adalah bagian dari PJK dengan angka kematian yang masih cukup tinggi.

Menurut keterangan persnya (01/10/2019), salah satu komplikasi serangan jantung yang menyebabkan tingginya angka kematian adalah kematian jantung mendadak akibat gangguan irama jantung yang fatal.

Gangguan irama jantung fatal atau dikenal dengan aritmia maligna masih terjadi berkisar 2,5-7,1% pada kejadian serangan jantung tersebut. Pada saat serangan jantung seringkali disertai dengan kadar gula darah yang meningkat dalam waktu singkat.

Menurut dr. Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, kejadian ini dilaporkan sebanyak 3-71% tergantung dari batasan kadar gula darah yang digunakan sebagai batasan peningkatan tersebut.

Dalam abstrak disertasinya, ia menyebutkan bahwa serangan jantung yang disertai peningkatan kadar gula darah saat awal masuk rumah sakit akan meningkatkan risiko gangguan irama jantung yang dapat berakibat kematian jantung mendadak.

“Proses ini terjadi melalui beberapa mekanisme yang diduga berperan, yaitu kerusakan otot jantung, perubahan saluran ion, dan peningkatan respons peradangan,” ujar Sally.

Belum ada penelitian yang menelaah secara bersamaan antara peran kerusakan otot jantung, perubahan saluran ion dan peningkatan respons peradangan sebagai patomekanisme terjadinya gangguan irama jantung pada pasien serangan jantung yang memiliki peningkatan kadar gula darah saat masuk rumah sakit.

Untuk itu Sally Aman Nasution melakukan studi yang bertujuan membuktikan patomekanisme tersebut dengan mengevaluasi kadar troponin I dari pemeriksaan darah, strain ekokardiografi dan ventricular late potential (VLP) pada pemeriksaan signal averaged electrocardiography, sebagai penanda kerusakan otot jantung, serta menilai kadar CaMKII pada hari pertama dan kelima sebagai penanda perubahan saluran ion dan kadar hsCRP dari pemeriksaan darah sebagai penanda respons peradangan.

Penelitian ini dilaksanakan di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta dengan melibatkan 110 pasien dari November 2018 sampai dengan Mei 2019. Pasien serangan jantung tanpa disertai infeksi yang berat dievaluasi dan diperiksa darahnya.

Hasil penelitian ini menemukan sebuah teori baru yaitu patomekanisme terjadinya gangguan irama jantung pada pasien serangan jantung yang mengalami peningkatan kadar gula darah saat masuk rawat.

Mekaniseme ini terdari 3 jalur, yaitu pertama lebih dominan peran kerusakan otot jantung yang ditandai dengan kadar troponin I yang tinggi dibandingkan pengaruh kadar gula.

Jalur kedua adalah perubahan kalsium dalam sel yang akan mengaktifkan CaMKII yang yang membuat hantaran listrik di jantung berubah serta jalur ketiga melalui hormon stres dalam tubuh yang meningkat saat terjadi serangan jantung tersebut.

Hormon stres (kortisol, katekolamin) akan meningkatkan kadar gula darah yang kemudian meningkatkan kadar reactive oxygen species (ROS) yang juga akan mengaktivasi CaMKII dan kemudian menyebabkan remodeling elektrofisiologi jantung yang ditandai dengan VLP (+), dan inilah yang akan menyebabkan terjadinya gangguan irama jantung yang fatal tersebut.

Berdasarkan hasil penelitian ini, Sally menyarankan perlunya pemeriksaan SA-ECG untuk menilai VLP pada pasien serangan jantung yang disertai peningkatan kadar gula darah saat masuk rawat.

“Sehingga dapat memprediksi risiko gangguan irama jantung fatal secara dini. Hal ini dapat menjadi pertimbangan untuk tindakan lebih agresif untuk mengurangi kematian pada pasien serangan jantung,” tutup Sally.

Media Sosial Saya

© 2019 - Sitemap
error: Maaf Jangan Dicopy ya:)s protected !!
%d blogger menyukai ini: