<
Sel. Okt 22nd, 2019

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Kenapa Keamanan Ranitidin Dipertanyakan?

3 min read
Ranitidin yang cukup populer di kalangan dokter dan pasien kini menjadi sorotan. Obat yang kerap diresepkan untuk mengatasi heartburn atau kenaikan asam lambung, ditarik dari peredaran di beberapa negara. Padahal di Indonesia, obat ini diresepkan dokter. Obat ini dipasarkan dalam bentuk generik maupun generik bermerk.
Ranitidin

ranitidin obat asam lambung berlebih

Share this

Ranitidin yang cukup populer di kalangan dokter dan pasien kini menjadi sorotan. Obat yang kerap diresepkan untuk mengatasi heartburn atau kenaikan asam lambung, ditarik dari peredaran di beberapa negara. Padahal di Indonesia, obat ini diresepkan dokter. Obat ini dipasarkan dalam bentuk generik maupun generik bermerk.

Salah satu negara yang memutuskan untuk menarik ranitidin adalah Singapura. Seperti disiarkan dalam situs thestraitstimes.com, belum lama berselang, Health Science Authority (HSA) – sejenis Badan Pengawas Obat dan Makanan di Singapura – menarik peredaran delapan merk yang mengandung ranitidin.

Delapan merek obat ranitidin itu adalah Aciloc, Apo-Ranitidine, Hyzan, Neoceptin, Vesyca (berlapis film), Xanidine, Zantac (injeksi, sirup, dan tablet) dan Zynol-150.

Lalu mengapa obat ini perlu ditarik padahal sudah sejak lama dikonsumsi banyak orang? Menurut HSA, ranitidin mengandung pengotor nitrosamin, N-nitrosodimethylamine (NDMA), melebihi tingkat yang dapat diterima secara internasional.

Pengotor itu diduga sebagai zat yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kanker, meski pun baru terbukti dalam beberapa studi terhadap hewan. Kandungan itu juga dilaporkan terdapat pada obat hipertensi seperti valsartan dan beberapa obat lain. Selain itu juga dijumpai pada obat kardiovaskular seperti golongan Angiotension II Receptor Blocker.

Nitrosamin adalah kontaminan lingkungan dan dapat ditemukan dalam makanan atau lingkungan dalam jumlah yang sangat sedikit. Misalnya, dapat ditemukan dalam makanan olahan seperti bacon dan sosis.

Akan tetapi, pengotor nitrosamin juga telah ditemukan terbentuk secara tak terduga selama pembuatan beberapa obat.

Namun tidak lantas pasien yang sudah terlanjur mengonsumsinya, diminta menghentikannya. Ini karena kriteria internasional yang digunakan untuk menilai apakah obat yang terpengaruh aman atau tidak didasarkan pada efeknya jika seseorang meminumnya setiap hari selama 70 tahun.

HSA menambahkan bahwa ada obat-obatan lain yang dapat digunakan sebagai alternatif, dan pasien dipersilahkan menanyakan hal itu kepada dokter atau apoteker.

Sementara itu, Food and Drug Administration (semacam BPOM di Amerika Serikat) tengah mengkaji beberapa merk obat ratinidin. Sejauh ini belum ada larangan penggunaan ranitidin, namun jika kawatir terhadap risiko kanker dipersilahkan berkonsultasi dengan dokter mengenai obat alternatifnya.

Namuan dalam situsnya fda.org, FDA meminta dengan sukarela agar 14 lot kapsul ranitidin bermerk yang didistribusikan oleh salah satu perusahaan farmasi di sana, ditarik.

“FDA berkomitmen untuk memastikan bahwa obat-obatan yang dikonsumsi orang Amerika aman dan efektif. Kami mulai menguji produk ranitidine segera setelah kami mengetahui potensi pengotornya,” kata Penjabat Komisaris FDA Ned Sharpless, MD.

“Ketika kami mengidentifikasi penyimpangan dalam kualitas obat yang berpotensi menimbulkan risiko bagi pasien, FDA melakukan segala upaya untuk memahami masalah ini dan memberikan rekomendasi terbaik kami kepada publik secepat dan seakurat mungkin.”

Bagaimana dengan Indonesia? Sejauh ini BPOM belum memutuskan menarik obat ini. Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif BPOM Rita Endang mengaku masih meneliti keamanan obat ini di laboratorium sebelum memutuskan untuk menarik obat tersebut.

“Uji laboratorium memerlukan waktu,” ujar Rita seperti dikutip situs kontan.co.id. “Tentu semua memerlukan kehati-hatian, BPOM masih dalam proses tindak lanjut.”

Berita Terkait

Media Sosial Saya

© 2019 - Sitemap
%d blogger menyukai ini: