<
4 Desember 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Mengapa Obesitas Dewasa Lebih Rentan Kena Penyakit Degeneratif?

3 min read
Orang yang kekurangan gizi pada masa kecil namun kegemukan pada masa dewasa, terbukti menyebabkan peningkatan risiko berbagai penyakit degeneratif.

Obesitas sentral (Foto: personneltoday.com)

Jumlah penduduk gemuk yang terjadi pada usia dewasa terus meningkat di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Gemuk saat dewasa lebih berbahaya dan berisiko terkena penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, jantung, dan stroke.

Masalah kegemukan ini menjadi perhatian penting karena terkait dengan perkembangan berbagai penyakit degeneratif dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi.

Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 menunjukkan bahwa secara nasional prevalensi penduduk dewasa yang kelebihan berat badan meningkat dari 11,5% pada tahun 2013 menjadi 13,6% pada tahun 2018, sementara yang mengalami obesitas juga meningkat dari 14,8% menjadi 21,8%.

Meningkatnya jumlah obesitas dewasa cenderung terkait mudahnya secara ekonomi mendapatkan makanan tinggi kalori dan tinggi lemak, kurang aktif, dan sebagainya.

Padahal gemuk saat dewasa lebih berisiko daripada gemuk sejak lahir. Menurut hasil riset doktor dokter Lailan Safina Nasution, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), gemuk dewasa itu terkait oleh faktor perilaku adiposit.

Menurut Lailan, dalam disertasi doktoral Lailan, terletak pada perbedaan perilaku adiposit. Untuk menjelaskannya, Lailan menggunakan tikus sebagai model.

Dalam keterangan persnya, ia menganalisis perbedaan respons sel lemak viseral, atau sel lemak di sekitar organ perut, jika diberikan pakan tinggi lemak yang berlangsung kronik (berkepanjangan) pada dua kelompok tikus.  

Yaitu: kelompok tikus pertama bersifat gemuk pada dewasa namun pada masa kecilnya berbadan kurus, dan kelompok kedua sudah mengalami kegemukan sejak masa kecilnya.

Hasil penelitian Lailan menunjukkan bahwa sel lemak viseral pada kelompok tikus yang kurus pada masa kecil berjumlah lebih sedikit dibandingkan kelompok tikus yang sudah mengalami kegemukan sejak masa kecil.

Akan tetapi, sel-sel lemak pada kelompok tikus yang kurus pada masa kecil ini berukuran sangat besar (hipertrofi).

Sementara itu aliran darah, yang juga mengangkut oksigen ke jaringan lemak, jumlahnya tetap. Akibatnya, sel-sel lemak viseral mengalami kekurangan oksigen, yang disebut dengan istilah hipoksia.

“Adanya hipoksia dibuktikan dengan peningkatan kadar protein HIF-1α dan HIF-2α, yang merupakan petanda hipoksia,” kata Lailan dari ringkasan disertasinya.

Kondisi hipoksia ini bila tidak diatasi akan menyebabkan produksi energi di dalam sel berkurang. Untuk itu, sel lemak berusaha untuk meningkatkan produksi energi melalui peningkatan fungsi mitokondria dan biogenesis mitokondria (proses pembentukan mitokondria baru).

Mitokondria adalah suatu organel di dalam sel yang berfungsi sebagai “pusat pembangkit energi” sel. Diketahui bahwa sel-sel lemak hanya memiliki sedikit mitokondria.

Hal ini sesuai dengan fungsi utama sel lemak sebagai lokasi utama penyimpanan cadangan energi. Namun demikian jumlah dan fungsi mitokondria suatu sel dapat meningkat tergantung kepada kondisi metabolisme sel pada saat tersebut.

Jika suatu sel masuk ke dalam suatu keadaan yang menuntutnya untuk menyediakan energi dalam jumlah besar, fungsi mitokondria dalam sel akan ditingkatkan dan mitokondria baru akan dibentuk (sintesis) melalui proses biogenesis mitokondria.

Hasil penelitian tersebut menujukkan bahwa terjadi peningkatan biogenesis dan fungsi mitokondria pada kelompok tikus gemuk dewasa yang sebelumnya berbadan kurus pada masa kecil.

Kondisi hipoksia, yang terkait dengan produksi energi di dalam sel yang terbatas, menyebabkan sel berusaha untuk mengefisiensikan sumber energi tambahan dengan cara menggunakan berbagai komponen di dalam sel seperti organel, protein yang rusak atau yang tidak dapat dipakai untuk dihancurkan, disusun dan digunakan kembali untuk membentuk molekul baru yang berguna yang dikenal sebagai proses autofagi.

Autofagi dibuktikan meningkat pada kelompok tikus gemuk dewasa yang sebelumnya mengalami kekurangan gizi pada masa anak melalui peningkatan ekspresi gen LC3. LC3 adalah suatu gen yang lazim digunakan sebagai petanda adanya proses autofagi di dalam sel.

Telah dibuktikan oleh penelitian-penelitian sebelumnya bahwa peningkatan ekspresi gen maupun protein autofagi pada lemak viseral berasosiasi dengan gangguan fungsi jaringan lemak dan peningkatan risiko berbagai penyakit kardiometabolik, seperti diabetes, hipertensi, dan berbagai penyakit jantung lainnya.

Pada saat ini, Indonesia menghadapi suatu masalah beban ganda malnutrisi (double burden of malnutrition), yaitu suatu kondisi dijumpainya penduduk Indonesia yang mengalami kekurangan gizi maupun kelebihan gizi dengan jumlah yang sama-sama tinggi.

Fenomena yang terjadi pada penelitian ini, yaitu seseorang yang mengalami kekurangan gizi pada masa kecil namun berbalik mengalami kelebihan gizi pada masa dewasa, dapat diistilahkan sebagai “individual double burden of malnutrition” terbukti menyebabkan peningkatan risiko berbagai penyakit degeneratif.

error: Maaf Jangan Dicopy ya:)s protected !!
%d blogger menyukai ini: