<
24 September 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Banyak Wanita Subur Suku Minangkabau Alami Dislipidemia, Apa Solusinya?

4 min read
Banyak wanita usia subur suku Minangkabau mengalami dislipidemia. Ini terkaita dengan pola makan. Perlu diubah asupan makanan. Promosi doktor Gusnedi.
Makanan khas SUku Minangkabau

makanan, Suku Sunda, Suku Minangkabau, obesitas

Gusnedi tertarik pada wanita usia subur Suku Mniangkabau, Sumatera Barat. Sebagian besar wanita di sana mengalami dislipidemia alias kelebihan lemak darah dalam tubuhnya.

Atas dasar itu, ia melakukan studi yang diangkat menjadi disertasi yang mengantarnya meraih gelar Doktor Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Judul disertasinya: “Pengaruh Promosi Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal terhadap Praktik Diet, Asupan Zat Gizi, Status Gizi dan Profil Lipid Wanita Minangkabau dengan Dislipidemia”.

Dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko untuk penyakit jantung dan pembuluh darah. Jika dibiarkan, kata Gusnedi seperti dalam rilisnya (10/1), akan memberikan dampak buruk jangka panjang terhadap kesehatan ibu, kesuburan, kehamilan, kesehatan janin.

Bahkan kemungkinan anak yang dilahirkan menderita dislipidemia pada saat memasuki usia dewasa.

Dislipidemia merupakan salah satu kelainan metabolik yang ditunjukkan oleh kadar lemak darah (total kolesterol, Low Density lipoprotein /LDL, High Density Lipoprotein /HDL atau triglycerida) yang tidak normal.

Berdasarkan jenis kelamin, dislipidemia ditemukan lebih tinggi pada wanita, sedangkan berdasarkan tempat tinggal, penduduk perkotaan mengalami dyslipidemia lebih banyak dibandingkan penduduk pedesaan.

Menurut Gusnedia, wanita suku Minangkabau memiliki kadar rata-rata kolesterol yang lebih tinggi dibandingkan suku lain seperti Sunda, Jawa atau Bugis.

“Hal ini diduga terkait dengan kebiasaan dan pola makan sehari-hari, dimana pola diet wanita Minangkabau yang lebih bersifat atherogenik,” katanya dalam abstraknya.

Sekitar 20,7% dari asupan energi berasal dari lemak jenuh (lebih dari 10%) dan rasio asam lemak tak jenuh terhadap asam lemak jenuh (rasio P/S) yang sangat rendah yaitu 0,15 (jauh berada di bawah batas ambang rasio yang diinginkan yaitu 0.6).

Disamping itu data Riset Kesehatan Dasar dan SurveyiDiet Total (2014) menunjukkan bahwa masyarakat Minangkabau mengonsumsi sayur dan buah jauh dibawah jumlah yang dianjurkan dalam Pedoman Gizi Seimbang.

“Perubahan gaya hidup dan pola makan merupakan salah satu solusi jangka panjang dalam pencegahan dan penanganan dislipidemia,” imbuhnya.

Penelitian ini bertujuan untuk menyusun dan mempromosikan Panduan Gizi Seimbang Berbasis Pangan Lokal (PGS-PL) berdasarkan pola makan dan bahan makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat Minangkabau, dalam rangka perbaikan praktik diet pada WUS penderita dislipidemia.

Hasil studi menunjukkan bahwa 44.5% WUS yang mengikuti skrining dislipidemia diketahui memiliki kadar lemak darah (profil lipid) yang tidak normal.

Berdasarkan pola makan setempat, ditemukan bahwa asupan energi sebagian besar berasal dari karbohidrat (sekitar 62-68%). Meskipun asupan lemak total masih dalam rentang jumlah yang dianjurkan, namun proporsi energi dari asam lemak jenuh lebih dari 10%.

Selain itu, asam lemak tidak jenuh (polyunsaturated fatty acid/PUFA, asam lemak omega-3, omega-6), serat makanan, zat besi, dan zinc merupakan zat gizi yang sulit dipenuhi sesuai anjuran untuk WUS (disebut dengan istilah problem nutrient).

Dari hasil temuan itu, keluarlah anjuran dalam PGS-PL yang disusun dengan pendekatan Linier programming, menekankan penggabungan bahan makanan bernilai gizi tinggi yang biasa dikonsumsi dan tersedia secara lokal untuk perbaikan komposisi diet dan asupan problem nutrient.

Dalam praktik diet sehari-hari, WUS disarankan untuk mengonsumsi makanan sumber protein hewani minimal 14 porsi per minggu yang didalamnya sudah termasuk minimal 5 porsi ikan laut (dengan porsi rata-rata sekitar 50 g).

Konsumsi telur dan daging ayam masing-masing disarankan 2-3 porsi per minggu.

Untuk sayuran disarankan minimal 14 porsi (ukuran porsi rata-rata 100 g) per minggu, sudah termasuk minimal konsumsi 5 porsi sayuran hijau seperti daun singkong, bayam atau kangkung.

Olahan kedele seperti tahu dan tempe dianjurkan minimal dikonsumsi 7 porsi per minggu (ukuran porsi 50 g), kentang dianjurkan sebanyak 5 porsi perminggu ( ukuran porsi 50 g), dan buah-buahan lokal seperti pisang, jambu biji, jeruk atau papaya minimal 7 porsi dalam satu minggu.

Disamping itu juga ditekankan adanya perubahan cara pengolahan makanan terutama makanan sumber protein dan makanan camilan yang biasanya digoreng, dimodifikasi dengan cara lain yang menggunakan sedikit atau tanpa minyak.

Meskipun belum berdampak secara bermakna terhadap profil lemak darah, promosi PGS-PL terbukti dapat meningkatkan skor praktik diet secara bermakna.

Peningkatan terutama terjadi pada konsumsi makanan yang dipromosikan (ikan laut, unggas, tahu dan tempe, total sayuran, sayuran hijau, buah-buahan, dan kentang), sedangkan praktik konsumsi makanan pokok, makanan selingan, telur, dan makanan yang digoreng pada akhir intervensi relatif tidak berubah.

Promosi PGS-PL juga berdampak positif terhadap perubahan asupan energi dan karbohidrat, persentase energi dari PUFA dan monounsaturated fatty acid (MUFA), serta rasio P/S dalam makanan sehari-hari, meskipun total asupan lemak jenuh tidak berubah signifikan.

Disamping itu juga terdapat perbaikan yang bermakna pada berat badan, indeks massa tubuh, dan lingkar pinggang.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa PGS-PL yang disusun berdasarkan pola makan setempat dapat diikuti lebih mudah dibanding dengan pedoman gizi seimbang yang bersifat umum.

Bahan makanan yang tersedia secara lokal dapat lebih dioptimalkan dalam rangka meningkatkan asupan zat gizi untuk pencegahan dislipidemia pada WUS.

Gusnedi juga menyarankan, resep makanan khas Minangkabau yang diolah tanpa menggunakan minyak, sedikit atau tanpa santan seperti asam padeh dan pangek ikan merupakan makanan sehat yang perlu dipromosikan.

%d blogger menyukai ini: