<
30 September 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Pemanis Buatan Aman? Tidak Juga. Ini Jawabannya

2 min read
Pemanis buatan banyak dikonsumsi orang karena dianggap lebih aman bagi tubuh. Padahal menurut riset terbaru, dapat mengubah metabolisme dan kontrol glukosa

Foto: foodinsight.org

AriesKelanaCom – Sudah bukan barang langka lagi pemanis buatan. Di sejumlah restoran, kafe, dan tempat lain, disediakan pemanis buatan. Pemanis ini disediakan buat konsumen yang tak ingin mengonsumsi gula.

Namun belakangan, kita juga sering mendengar suara dari netizen lewat media sosial mengenai bahaya konsumsi gula. Gula dikaitkan dengan risiko obesitas, penyakit kardiovaskular, dan diabetes tipe 2,.

Karena itu, dalam upaya menghindari gula, banyak orang beralih ke pemanis berkalori rendah. Pemanis buatan memberikan rasa manis dengan tidak ada efek samping.

Sekitar seperempat anak di Amerika Serikat, dan lebih dari 40% orang dewasa, saat ini mengonsumsi pemanis berkalori rendah.

Tapi, apakah pemanis buatan tidak berbahaya seperti yang orang pikirkan?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekadar mencicipi sesuatu yang manis dapat mengubah metabolisme dan kontrol glukosa kita.

Dalam situs Medical News Today (4/2) Profesor M. Yanina Pepino, ahli ilmu pangan dan nutrisi University of Illinois di Chicago, Amerika Serikat, membuktikan hal itu lewat artikel yang dipublikasi dalam Jurnal Nutrients.

Pepino menguji hipotesa bahwa sukralosa, atau pemanis buatan yang ditemukan pada pemanis berkalori rendah akan memengaruhi respons metabolisme orang-orang dengan berat badan sedang dan orang-orang yang hidup dengan obesitas secara berbeda.

Untuk menguji hipotesis mereka, pertama, para peneliti meminta 21 peserta – 10 orang dengan berat badan normal dan 11 dengan obesitas – menjalani tes toleransi glukosa oral (OGTT) setelah mengonsumsi glukosa dan sukralosa.

Hasilnya, tak satu pun dari peserta menderita diabetes. Mereka menjalani OGTT setelah minum air suling.

Berselang sepekan, mereka diperiksa OGTT-nya, setelah mereka mengonsumsi air dengan 48 gram sukralosa di dalamnya – setara dengan kaleng soda yang khas.

Tes ketiga ketika mereka mencicipi jumlah sukralosa yang sama selama 5 detik tetapi tidak menelannya.

Mereka melakukan OGTT setelah mereka juga minum larutan yang mengandung 75 gram glukosa. Mereka mengambil glukosa 10 menit setelah salah satu dari tiga zat di atas. Kemudian mereka diperiksa darahnya dalam rentang beberapa menit setelah minum glukosa dan sukralosa.

Untuk orang-orang dengan “berat badan normal,” menelan sukralosa mengakibatkan penurunan kadar insulin dalam satu jam pertama dan peningkatan sensitivitas insulin sekitar 50%.

ebaliknya, ketika orang dengan obesitas menelan pemanis, kadar insulin mereka melonjak jauh lebih banyak dibandingkan dengan ketika mereka minum air suling atau ketika mereka hanya mencicipi pemanis itu.

“Sementara respon insulin untuk mencicipi atau menelan sukralosa adalah serupa pada orang-orang dengan berat badan normal, tanggapan-tanggapan itu sangat berbeda pada orang-orang dengan obesitas,” kata Prof. Pepino.

“Oleh karena itu, kami berhipotesis bahwa beberapa efek sukralosa pasca konsumsi dapat terjadi hanya pada orang dengan obesitas.”

Namun, peneliti memperingatkan bahwa pemanis yang berbeda memiliki struktur kimia yang berbeda, sehingga temuan penelitian ini, mengenai “efek pasca konsumsi,” dapat berlaku secara eksklusif untuk sukralosa.

Berita Terkait

%d blogger menyukai ini: