Ini Metode Baru Untuk Diagnosa Alergi Rinitis


Aries Kelana – Alergi rinitis merupakan salah satu jenis alergi yang diidap banyak orang. Di Eropa misalnya, sekitar 130 juta orang menderita alergi jenis ini. Mereka mengalami gejala seperti hidung tersumbat, gatal dan bersin.

Untuk mendeteksinya biasanya dokter menggunakan pemeriksaan darah untuk melihat kadar salah satu imunoglobulin, dan tes dengan menusukkan sesuatu pada kulit. Tetapi tes ini bagi sebagian orang tak nyaman karena terasa menyakitkan.

Jangan kawatir. Seperti dlansir Science Daily (17/4/2020), Profesor Claudia Traidl-Hoffmann, ahli kedokteran lingkungan pada Institute of Environmental Medicine di Helmholtz Zentrum München, Jerman telah menemukan metode diagnostik baru melalui cairan hidung atau upil.

Dengan menggunakan teknologi biochip, Hoffmann dan timnya mampu mengukur kadar antibodi untuk 112 alergen yang berbda dengan sampel darah.

Tim Prof Traidl-Hoffmann menggunakan teknologi diagnostik molekuler ini untuk mengukur konsentrasi antibodi imunoglobulin E (IgE) dalam darah dan sekresi hidung dari subjek uji. Antibodi ini berperan dalam respons alergi tertentu.

Para peneliti mempelajari individu dengan dan tanpa kepekaan terhadap alergen yang paling umum di udara, termasuk kecoa,tungau, debu, serbuk sari, serbuk sari pohon birch, hazelnut dan alder.

“Keuntungan besar dari diagnosis alergi dengan noda hidung adalah bahwa itu adalah pilihan yang baik untuk anak-anak kecil dibandingkan dengan sampel darah atau pengujian tusukan kulit. Untuk kelompok usia itu, terapi hiposensitisasi penting karena rinitis alergi dapat berkembang menjadi asma alergi,” “kata Prof. Claudia Traidl-Hoffmann.

Stefanie , rekan Hoffmann menambahkan dengan mengaku percaya bahwa, dengan noda hidung, antibodi IgE spesifik untuk alergi tertentu dapat dideteksi yang tidak dapat diukur dalam sampel darah.

“Kami sekarang perlu melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi hipotesis itu,” katanya.