<
28 September 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

4 min read

AriesKelanaCom –

Bekasi, Warta Bugar – COVID-19 membawa perubahan besar dalam kehidupan kita. Hampir 100 negara menj alani pembatasan kegiatan di masyarakat dalam berbagai derajatnya, ada yang total dan ada yang parsial.

India memulainya di hari Minggu, 22 Maret dimana seluruh India dinyatakan “Janta Curfew” (jam malam masyarakat). Seluruh penduduk harus di rumah sejak 07.00 pagi sampai 21.00.

Lalu, dilanjutkan di New Delhi (dan beberapa negara bagian lainnya) dengan pembatasan kegiatan secara amat ketat selama 2 hari, 23 dan 24 Maret 2020,

Akhirnya, mulai Rabu 25 Maret 00.00 India dinyatakan totally lock down. Artinya 1,3 milyar penduduk India harus berada di rumah selama 21 hari (tahap pertama). 

Kegiatan praktis berhenti total (kecuali yg esensial) jalanan kosong melompong, misalnya di salah satu jalan utama Delhi, “Mathura Road” (mungkin kalau di Indonesia ini namanya “Jalan Madura” ya) ((sebagaimana di foto ini)  di luar gerbang kompleks rumah saya yang biasanya amat ramai.

India memasuki babak baru dalam “world largest pandemic lockdown”, lebih besar dari Cina yg waktu itu tidak mencakup seluruh negara. India “stay at home” satu negara seluruhnya

Kebijakan yang sangat drastis, amat ketat dan total. Tidak ada tukang koran ke rumah, tidak terlihat tukang pos dan sebagainya.

Toko yang buka hanya yang menjual bahan makanan dan obat-obatan. Setiap pagi dan sore ada mobil polisi dengan sirine keras berputar di jalan-jalan, mengingatkan penduduk untuk tetap dirumah saja.

Tentu boleh keluar kalau membeli bahan makanan, hanya harus antri berjarak 2 m. Pengunjung tidak bisa masuk toko, dibatasi tali -foto kanan atas, meja dll. shg pembeli diluar dan penjual di dalam toko.

Kalau sedang keluar belanja, saya sengaja jalan-jalan sekitar kompleks, seperti foto di Sabtu sore kemarin.

Kemudian mencari matahari yang bersinar cerah dan juga selingan dari olahraga di teras saja setiap hari. Tentu saja jalanan sepi, tidak ada orang dan semua mobil terparkir saja.

Hal baru lain, selain lockdown juga ada daerah hotspot yang dikategorikan menjadi “sealed area”.

Di kawasan ini (biasanya karena ada lebih dari 6 kasus positif), maka penghuni rumah sekitarnya (mgk sekitar 1 RW) tidak boleh ke luar rumah sama sekali.

Kalau perlu apa-apa, maka telpon ke nomor tertentu utk diantar barang keperluan hariannya. Rumah ke rumah juga di cek kesehatannya semua. Benar2 100% sealed !!!

Total lockdown seluruh India tahap satu ini bermula 25 Maret selama 3 minggu sampai 14 April. Ternyata, lalu dilanjutkan “Lockdown 2.0”, tahap ke dua sampai 3 Mei 2020. Jadi total 40 hari semua 1,3 milyar penduduk India tinggal di rumah saja.

Setelah seminggu tahap ke dua ini akan dinilai daerah mana yang jumlah kasusnya berkurang jauh (atau mgk 0) maka lockdownnya akan agak dilonggarkan, tapi nampaknya tidak di New Delhi.

Juga tidak jelas apakah nantinya akan ada “tahap ke tiga” atau tidak. Yang bersyukur adalah semua kebutuhan se-hari2 tetap tersedia.

Tapi minggu yang lalu dilaporkan seorang pengantar Piza ke rumah-rumah ternyata pengidap COVID-19, sehingga semua pengantar dan yang menarima antaran piza dicek dan di karantina 14 hari.

Tepuk tangan dan Cahaya lilin

Saat “Jantar Curfew” 22 Maret jam 5 sore seluruh penduduk diminta ke balkon dan teras rumahnya msg2 untuk bertepuk tangan selama 5 menit untuk berterimakasih pada petugas yang bekerja melayani masyarakat (kesehatan, polisi, pelayanan umum dll.).

Di kompleks rumah saya warga patuh bertepuk dan menabuh piring dll di rumah, tapi di beberapa daerah mereka malah menari di jalan pada jam 5 sore itu, tentu tidak sejalan dengan kebijakan yang diharapkan.

Pada 5 April yl. (April bln ke 4, jadi 5+4 = 9), tepat 9 hari pada sebelum India total lockdown tahap pertama berakhir maka jam 9 malamnya seluruh  penduduk India yg “stay at home” diminta menyalakan lilin dll selama 9 menit. 

Jam 9 malam maka seluruh lampu rumah dimatikan dan seluruh 1,3 Milyar penduduk India diminta selama 9 menit menyalakan lilin atau diya (cawan kecil diisi minyak dan sumbu) atau bahkan lampu senter HP.

Dalam 9 menit itu ditembakkan juga kembang api ke angkasa  New Delhi. Ada 3 maksud acara ini, pertama memberi penghargaan pada petugas kesehatan dan petugas lapangan lain yang menangani

. Ke dua,  “menyalakan cahaya terang untuk memberi harapan mengatasi COVID”, dan ke tiga menunjukkan India bersatu (“United”) (ditunjukkan dgn seluruh 1,3 Milyar bersama menyalakan lilin dll.) melawan COVID. 

Tepuk tangan dan cahaya lilin 1,3 Milyar merupakan inisiatif yang baik untuk menghargai kerja para Pahlawan COVID, yaitu petugas kesehatan dan petugas lapangan lainnya.

Selain bentuk penghormatan ke petugas kesehatan dll, menyalakan lilin juga di anggap sebagai perlambang “to dispel the darkness spread by coronavirus”.

*Prof Tjandra Yoga Aditama. Mantan DirJen P2P Kemenkes dan Mantan Kepala Balitbangkes. Sekarang bertugas sebagai Direktur WHO SEARO ttg Penyakit Menular.

%d blogger menyukai ini: