<
28 Juli 2021

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Waspadalah, Ibu Hamil Penderita Hipotiroid Berisiko Melahirkan Anak Hiperaktif

3 min read
Ini peringatan buat ibu-ibu yang tengah hamil. Ketika menginjak usia kehamilan 3 tahun, disarankan untuk memeriksakan darah untuk mengecek kadar hormon tiroid. Jika rendah di bawah normal, berhati-hatilah jika anaknya lahir berisiko tinggi menderita ADHD (atension deficit and hyperactive disorder).
Kelenjar Tiroid

Kelenjar Tiroid

ARIESKELANACOM – Ini peringatan buat ibu-ibu yang tengah hamil. Ketika menginjak usia kehamilan 3 tahun, disarankan untuk memeriksakan darah untuk mengecek kadar hormon tiroid. Jika rendah di bawah normal, berhati-hatilah jika anaknya lahir berisiko tinggi menderita ADHD (atension deficit and hyperactive disorder). Itu berdasarkan riset yang digarap ilmuwan New York University, Long Island, School of Medicine, Amerika Serikat.

Menurutnya, hormon tiroid diproduksi di kelenjar tiroid di leher dan diketahui memengaruhi pertumbuhan janin.  Sebanyak 24 persen lebih mungkin menderita ADHD dibandingkan anak-anak yang ibunya tidak didiagnosis hipotiroid.

Penelii mengatakan temuan mereka juga menunjukkan bahwa anak laki-laki yang lahir dari wanita hipotiroid empat kali lebih rentan terhadap ADHD daripada anak perempuan yang ibunya menderita hipotiroidisme. Anak-anak Hispanik yang lahir dari ibu hipotiroid memiliki risiko tertinggi dari semua kelompok etnis yang diteliti.

“Temuan kami memperjelas bahwa kesehatan tiroid kemungkinan memiliki peran yang jauh lebih besar dalam perkembangan otak janin dan gangguan perilaku seperti ADHD daripada yang kami pahami sebelumnya,” kata pemimpin riset Morgan Peltier, ahli Obstetri Klinis, Ginekologi, dan Pengobatan Reproduksi di Rumah Sakit NYU Winthrop, bagian dari NYU Langone Health, seperti dilansir Science Daily, belum lama ini.

Di antara temuan penelitian tersebut adalah bahwa setelah kehamilan mencapai trimester kedua, hipotiroidisme seorang wanita hanya berdampak kecil pada anak-anaknya. Penjelasan yang mungkin, kata Peltier, adalah bahwa pada titik ini, janin sudah mulai memproduksi hormon tiroidnya sendiri sehingga tidak terlalu rentan terhadap kekurangan ibunya.

Periset meneliti 329.157 anak sejak lahir hingga usia 17, semuanya lahir di rumah sakit Kaiser Permanente California Selatan. Ini adalah upaya skala besar pertama di AS untuk menguji hubungan potensial antara hipotiroidisme ibu dan ADHD pada anak-anaknya, menurut penulis penelitian.

Para penulis juga mencatat bahwa tidak seperti penelitian sebelumnya di Eropa, penelitian baru di Amerika melibatkan orang-orang dari latar belakang etnis yang beragam dan mengamati anak-anak selama hampir dua dekade. Masa studi yang panjang ini, kata penulis utama Peltier, memungkinkan para peneliti untuk menangkap kasus ADHD dengan lebih baik pada anak-anak saat mereka menua dan berkembang melalui sekolah.

Tim lalu menganalisis catatan medis anak-anak dan mengumpulkan informasi penting tentang ibu mereka, termasuk usia kehamilan, ras, dan pendapatan rumah tangga. Semua anak dievaluasi untuk ADHD menggunakan kriteria yang sama, yang menurut penulis membantu mencegah ketidakkonsistenan dalam cara mengidentifikasi kasus gangguan tersebut.

Menurut temuan tersebut, secara keseluruhan 16.696 anak didiagnosis dengan ADHD. Anak-anak Hispanik yang ibunya memiliki kadar hormon tiroid rendah selama kehamilan memiliki risiko 45 persen lebih tinggi untuk gangguan perkembangan saraf dibandingkan dengan 22 persen peningkatan risiko pada anak kulit putih yang ibunya memiliki kondisi yang sama.

Peltier mengatakan hasil timnya cukup kuat untuk menjamin pemantauan yang cermat terhadap wanita hamil dengan kadar hormon tiroid rendah. Dia menambahkan bahwa anak-anak yang ibunya memiliki kadar hormon tiroid rendah selama kehamilan berpotensi mendapat manfaat dari pengawasan dini untuk tanda-tanda ADHD, seperti kurangnya perhatian, hiperaktif, dan kesulitan fokus pada tugas.

%d blogger menyukai ini: