<
28 Juli 2021

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Jangan Kebanyakan Makan Telur, Bisa Kena Diabetes

3 min read
Riset baru dari University of South Australia menunjukkan bahwa konsumsi telur yang berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes. Risikonya bisa meningkat hingga 60 persen.
Telur baik untuk diabetes

Telur baik untuk diabetes (Foto: Aries Kelana)

ARIESKELANACOM – Telur orak-arik, telur rebus, dan telur omelet adalah makanan sarapan yang populer di seluruh dunia. Semua hotel, terutama di restorannya, menyediakan makanan itu untuk para tamunya.

Namun tahukan manfaat kesehatan dari telur itu? Ternyata tak semua orang yang mengonsumsi banyak teluar mendapatkan mafaat dari segi kesehatan. Selain berbahaya bagi jantung, juga bisa berisiko terkena penyakit lain. Riset baru dari University of South Australia menunjukkan bahwa konsumsi telur yang berlebihan dapat meningkatkan risiko diabetes.

Itu setelah para penelitinya – bekerjasama dengan ilmuwan China Medical University, dan Qatar University – menggarap studi longitudinal (1991 hingga 2009) untuk menilai konsumsi telur pada sampel besar orang dewasa Cina. Hasilnya, ditemukan bahwa orang yang rutin mengonsumsi satu atau lebih telur per hari (setara dengan 50 gram) meningkatkan risiko diabetes hingga 60 persen.

Studi itu dikerjakan lantaran prevalensi diabetes di Cina sekarang melebihi 11 persen – di atas rata-rata global sebesar 8,5 persen. Karenanya, diabetes telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Dampak ekonomi diabetes juga signifikan, terhitung 10 persen dari pengeluaran kesehatan global (US$ 760 miliar). Di Cina, biaya terkait diabetes melebihi USD $ 109 miliar.

Ahli epidemiologi dan kesehatan masyarakat, Ming Li dari UniSA, mengatakan meningkatnya diabetes adalah kekhawatiran yang berkembang, terutama di China di mana perubahan pola makan tradisional China berdampak pada kesehatan.

“Diet adalah faktor yang diketahui dan dapat dimodifikasi yang berkontribusi pada timbulnya diabetes tipe 2, jadi memahami berbagai faktor makanan yang mungkin memengaruhi peningkatan prevalensi penyakit itu penting,” kata¬† Li, seperti dikutip dari Science Daily (10/11/2020).

“Selama beberapa dekade terakhir, China telah mengalami transisi nutrisi yang substansial yang membuat banyak orang beralih dari pola makan tradisional yang terdiri dari biji-bijian dan sayuran, ke pola makan yang lebih diproses yang mencakup lebih banyak daging, makanan ringan, dan makanan padat energi.

“Pada saat yang sama, konsumsi telur juga terus meningkat; dari tahun 1991 hingga 2009, jumlah orang yang makan telur di China hampir dua kali lipat *.

“Sementara hubungan antara makan telur dan diabetes sering diperdebatkan, penelitian ini bertujuan untuk menilai konsumsi telur jangka panjang dari telur dan risiko terkena diabetes, yang ditentukan oleh glukosa darah puasa.

“Apa yang kami temukan adalah bahwa konsumsi telur jangka panjang yang lebih tinggi (lebih dari 38 gram per hari) meningkatkan risiko diabetes di antara orang dewasa China sekitar 25 persen.

“Lebih lanjut, orang dewasa yang rutin makan banyak telur (lebih dari 50 gram, atau setara dengan satu telur, per hari) memiliki peningkatan risiko diabetes hingga 60 persen.”

Efeknya juga lebih terasa pada wanita dibandingkan pria.

Dr Li mengatakan bahwa sementara hasil ini menunjukkan bahwa konsumsi telur yang lebih tinggi secara positif terkait dengan risiko diabetes pada orang dewasa China, diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengeksplorasi hubungan sebab akibat.

“Untuk mengalahkan diabetes, diperlukan pendekatan multi-segi yang tidak hanya mencakup penelitian, tetapi juga seperangkat pedoman yang jelas untuk membantu menginformasikan dan membimbing publik. Studi ini adalah satu langkah menuju tujuan jangka panjang itu.”

%d blogger menyukai ini: