<
2 Maret 2021

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Ingin Terhindar Dari Kusta? Kenali Gejala-gejalanya

2 min read
Menyambut Hari Kusta Sedunia, Kementerian Kesehatan perlu mensosialisasikan lagi mengenai bahaya kusta, yang banyak menyerang anak-anak. Perlu mengenali gejala awalnya.

ARIESKELANACOM – Ingin terhindar dari kusta? Cukup kenali gejala-gejalanya lebih dini sebelum penyerang ke saraf. Gejala-gejalanya antara lain adanya bercak berwarna merah atau putih di badan dan bokong misalnya, yang tidak menimbulkan rasa sakit atau gatal. Bercak itu bisa berupa panu. Namun, makin lama bercak tadi makin banyak.

Itu diungkapkan oleh dokter kulit dari Persatuan Dokter Kulit dan Kelamin Indonesia dan Sekretaris Kelompok Studi Morbus Hansen Indonesia (KSMHI) Zunarsih, dalam jumpa pers secara virtual menyambut Hari Kusta Sedunia pada Jumat (29/1/2021). adi kalau kulitnya bercak putih seperti panu dengan dikasih obat panu tapi tidak sembuh-sembuh, nah itu biasanya kusta,” ucap Zunarsih.

Kusta kini bukan merupakan penyakit ringan. Jika dibiarkan berlanjut bisa mengakibatkan tangan atau jarinya tiba-tiba putus. Yang perlu diwaspadai, menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Maxi Rein Rondonuwu,  prevalensi kasus baru kusta pada anak cenderung masih tinggi.

Data  Kementerian Kesehatan per tanggal 13 Januari 2021, kasus baru kusta yang menimpa anak-anak mencapai 9,14 %. Angka ini belum mencapai target pemerintah yaitu di bawah 5%. Sementara per provinsi baru 26 provinsi dianggap berhasil melakukan eliminasi kasus kusta.

“Kasus pada anak, harus menjadi perhatian karena mereka akan bersekolah, risiko penularan pada teman-teman di sekolah dan dampak sosial yang ada. Ini harus menjadi perhatian bagaimana kita mengatasinya,” kata Max.

“Kalau mereka tidak segera ditemukan dan diobati, itu akan mendapatkan stigma dan diskriminasi seumur hidup. Kalau kondisi tangannya sudah putus-putus, sudah kiting. Bagaimana dia bisa sekolah dengan baik, saat dewasa bagaimana mereka bisa bekerja dengan baik,” timpal Zunarsih.

Sebagai langkah penanganan, Direktur Penegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid mengatakan bahwa Kemenkes menerjunkan kader di Puskesmas untuk melakukan penemuan kasus sedini mungkin agar bisa segera diobati. Skrining dilakukan di rumah, sekolah maupun lingkungan sekitar.

“Kami biasanya melakukan pemeriksaan di anak sekolah, ini terintegrasi dengan program UKS. Jika kita temukan anak positif kusta, kita bisa lakukan pemeriksaan kontak khususnya keluarganya atau gurunya di sekolah,” ucap dr. Nadia.

Selanjutnya, dilakukan pengobatan kepada penderita. Pada kusta tipe basah harus minum obat selama 12 bulan, sedangkan untuk tipe kering harus minum obat selama 6 bulan. Untuk itu, kepatuhan penderita mengonsumsi obat adalah kunci menyembuhkan kusta.

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga aktif melakukan promosi kesehatan untuk meningkatkan pemahaman bahwa adanya bercak putih maupun merah bukanlah bercak biasa, namun membutuhkan penanganan lebih lanjut di fasyankes.

Keseriusan pemerintah dalam Program Pencegahan dan Penanggulangan (P2) Kusta juga terlihat dari masuknya program P2 Kusta sebagai Program Prioritas Nasional (Pro-PN) dan pemberian dukungan dana yang memadai bagi pelaksanaan program baik di pusat dan di daerah. Melalui dukungan dana tersebut, daerah-daerah telah melakukan akselerasi upaya-upaya melalui berbagai kegiatan advokasi, sosialisasi, pelatihan, upaya deteksi dini dan penemuan aktif demi tercapainya target Eliminasi Kusta tingkat Kabupaten/Kota tahun 2024.

error: Maaf Jangan Dicopy ya:)