<
30 Oktober 2020

AriesKelanaCom

Info Dokter dan Pusat Layanan Kesehatan

Bagaikan Hidup Cuma Sebentar

Perkenankanlah, sebut saja nama saya Anto. Usia 52 tahun. Saya ingin berbagi perjuangan saya melawan kanker. Kejadian itu terjadi 24 tahun lalu, pada saat saya masih semangat bekerja.

Pada Februari kondisi tubuh saya drop. Demam yang berkepanjangan, meskipun suhu tubuh tidak terlalu. KEsalahan saya, terus memaksakan saya bekerja. Bahkan ketika diminta bertugas di Singapura, saya tak menampiknya.

Selama 3 bulan saya biarkan kondisi tersebut berlangsung, hingga suatu saat, saya terkena batuk yang cukup parah, yang mengharuskan saya beristirahat. Setelah saya diberi obat oleh dokter, kesehatan saya kembali normal. Demamnya juga hilang.

Tapi, tak lama kemudian saya melihat ada yang aneh di lipatan. Ada benjolan di testis kanan saya.  Benjolan tersebut perlahan-lahan melebar dan bertambah banyak

Tanpa pikir panjang, saya langsung berkonsultasi ke dokter. Dokter menduga itu kanker, maka saya dirujukan ke dokter bedah tumor di bilangan Rawamangun. Hasil diagnosa memang benar.

Ketika dianjurkan untuk diangkat testis, saya tidak keberatan. Kebetulan, saya juga menderita hernia yang cukup lama dan menyiksa saya. Saya tidak takut bakal mempengaruhi kemampuan saya mempunyai keturunan, karena saya masih punya 1 testis lagi.

Sebelum dioperasi, saya menjalani pemeriksaan dengan USG dan CT Scan. Hasilnya, belum ada penyebaran ke organ lain.

Bedah pun dilakukan di salah satu rumah sakit di Jakarta Pusat. Hasil diagnosa dari patologi klinis dan anatomi, saya terkena kanker testis stadium I.

Mendengar kata kanker, hati saya merasa hancur. Saya merasa hidup saya tidak akan lama lagi. Saya juga merasa tidak ada wanita yang bersedia menjadi istri saya, karena selama hidupnya bakal mengurusi saya yang terkena kanker.

Setelah operasi, beberapa dokter menganjurkan saya untuk menjalani operasi lain untuk mengangkat semua kelenjar getah bening dari ginjal hingga ke bawah. Tujuannya untuk mencegah penyebaran. Maklum, kanker testis saya terbilang ganas dan mematikan.

Saya terpukul dengan saran dokter, karena kalau itu dilakukan berarti saya tak bakal punya keturunan. Padahal saya kepingin punya anak. Saya akhirnya memilih tidak dioperasi lagi, melainkan menjalani radioterapi selama 15 kali.

Setelah penyinaran, dokter menganjurkan untuk menjalani kemoterapi. Tapi saya menolaknya karena saya kawatir kondisi saya akan drop lagi. Selain itu, kemoterapi membuat sel-sel sperma saya akan mati dan tak bisa punya keturunan. Saya juga tidak tahu apakah radioterapi yang sudah saya jalani bakal membuat sperma saya mati.

Akhirnya saya mencoba mengonsumsi obat tradisional dari Nyonya Lauren (almarhum) yang berpraktek di Cipinang Indah. Harga obat Rp 500.000 sekali kunjungan. Bagi saya, uang itu tergolong mahal untuk ukuran saat itu. Tapi karena saya ingin sembuh, saya penuhi.

Beruntung saya hanya berobat tradisional selama 6 bulan. Setelah itu saya hanya kontrol ketika saya mau saja.

Tiga tahun kemudian, saya mendapatkan wanita yang saya cari. Sebelum menikah saya ceritakan semua penyakit yang saya alami, agar ia siap, bahkan siap untuk tidak punya anak.

Tak lama kemudian kami menikah dan alhamdulillah punya anak. Allah memang Maha Kuasa dan Maha Pengasih.


Diceritakan kembali oleh penulis.

error: Maaf Jangan Dicopy ya:)s protected !!